Minggu, 12 Desember 2010

CERITA PADA SEBUAH GUBUK YANG SEPI






Ini hanyalah sebuah cerita tentang sebuah gubuk yang kini di tinggali oleh seorang nenek renta. Menyedihkan memang, karena sang kakek telah tiada beberapa tahun silam tapi apadaya sang nenek harus tetap melanjutkan hidup walaupun tanpa sang kakek. Dari luar nenek tersebut memang terlihat tegar tapi saya tetap yakin di dalam hatinya sang nenek pasti merindukan sang kakek yang senantiasa menemaninya dalam suka dan duka sampai beberapa tahun silam.

Detik dan menit pun berlalu tanpa terhentikan, sekarang adalah hari raya idul fitri kedua yang di jalani nenek tersebut tanpa kehadiran sang pujaan hati di sampingnya, perih memang namun kehadiran sang anak dan cucu tercinta di sampingnya akan sedikit mengobati kesepiannya itu. Sadar atau tidak kehadiran anak dan cucu sang nenek pada setiap lebaran seolah memberikan semangat baru bagi sang nenek, setiap gerakan yang di perlihatkannya seakan ingin membuktikan bahwa dia adalah seorang nenek yang tegar tanpa kehadiran sang suami.

Ah...memang seorang nenek yang sangat menarik ku kira. Bukan hanya karena ketegarannya dalam menjalani kehidupan tanpa sang suami namun juga karakteristik yang di punyai oleh nenek ini, mulut yang ceplas ceplos menjadi ciri khas nenek ini, bak seorang kritikus sastra, komentar- komentar pedaspun kerap meluncur dari mulut nenek ini. terkadang ku hanya tertawa mendengar komentar dari nenek ini...tapi satu hal yang pasti ku sangat sayang dan bangga dengan beliau. Dengan segala keterbatasan yang di milikinya dia mampu untuk mendidik dan memberikan nasib yang lebih baik kepada seluruh anak-anak dan cucu-cucunya.

Seperti yang di katakan banyak orang, tak ada yang dapat menghentikan waktu, hal ini pun harus di hadapi oleh sang nenek. Lebaran telah berlalu beberapa hari dan sekarang telah tiba saatnya bagi sang nenek untuk berpisah kembali dengan salah satu anak beserta seluruh cucu-cucunya. Anak dan cucu-cucunya itu akan kembali ke sebuah daerah di dekat danau terbesar yang ada di indonesia ini dan juga akan kembali ke sebuah kota yang identik dengan praktek kapitalis yang keberadaannya sebagai ibukota negara menjadi terancam belakangan ini. Sebuah peristiwa yang sebenarnya sangat tak di kehendaki bukan hanya oleh sang nenek tapi oleh kami semua yang akan di tinggalkan. Karena memang walaupun hanya satu bulan mereka telah memberikan sebuah warna baru dan semangat baru bagi sang nenek dan kami semua.

Saat-saat perpisahan ini akan menjadi hal yang berat bagi kami semua yang di tinggalkan terutama sang nenek karena itu artinya sang nenek harus kembali menyepi di gubuk itu. Satu hal yang kerap teringat ketika detik-detik perpisahan ini adalah sebuah peristiwa pada lebaran beberapa tahun silam ketika sang kakek masih hidup. Lebaran waktu itu sangat spesial karena seluruh anak dari kakek dan nenek itu pulang ke gubuk itu dan meramaikan gubuk yang biasanya sepi itu. Tak hanya itu tetesan air mata yang di keluarkan oleh sang kakek ketika detik-detik perpisahan dengan anak-anak beliau setelah lebaran menjadi salah satu peristiwa yang mengharukan tahun itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar